بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ
"Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras, sehingga (hatimu) seperti batu, bahkan lebih keras. Padahal dari batu-batu itu pasti ada sungai-sungai yang (airnya) memancar daripadanya. Dan ada pula yang terbelah lalu keluarlah mata air daripadanya. Dan ada pula yang meluncur jatuh kerana takut kepada Allah. Dan Allah tidaklah lengah terhadap apa yang kamu kerjakan."
[QS Al-Baqarah, 2:74]

Wednesday, 9 November 2011

Spirit Ukhuwah Yang Hilang (3)


Jamaah yang lain lagi. Lebih bersifat komprehensif. Ia lebih memperhatikan tarbiyah dan pembinaan secara utuh daripada sekedar mengurus tambal sulam atas berbagai persoalan umat yang sedang berlangsung. Manhaj dakwah Rasulullah saw dipelajari secara utuh berdasarkan pendekatan ilmiah yang teliti. Maka, banyak tokoh dari dakwah Rasulullah saw secara mendalam dan intensif, mereka mengetahui benar mana yang tsawabit dan mana yang mutaghayyirat.

Berdasarkan pemahaman yang benar dan syumul terahadap Islam aktivis dakwah ini meletakkan manhaj tarbiyah sebagai pegangan bagi setiap anggotanya. Manhaj inilah yang menurut saya tidak dimiliki oleh jamaah lain, karenanya, para aktifis yang telah terbina berdasarkan manhaj tersebut mengetahui benar apa yang harus mereka kerjakan di lapangan. Mereka selalu sibuk memperjuangkan segala hal yang berkenaan dengan prinsip ilmu pengetahuan agama yang mereka dalami. Ibadah mereka tingkatkan. Bahasa Arab mereka tekankan. Dan di saat yang sama, mereka berjuang habis-habisan menyingkirkan kedzaliman di muka bumi. Mereka paham betul bagaimana musuh-musuh Islam menghancurkan umat Islam. Mereka juga sedang menempuh langkah-langkah konkret dan realistis agar umat Islam menjadi umat yang kuat, berwibawa, dan tidak mudah dipermainkan oleh kekuatan musuh.

Bagi aktivis jamaah ini, memusuhi jamaah lain, bukan ajaran Islam, tidak ada dalam jamaah ini sikap menjelekkan jamaah lain. Bahkan, perjuangan yang selalu mereka kedepankan adalah bagaimana agar semua jamaah umat Islam bersinergi. Salah seorang tokoh mereka mengatakan kalimat yang pantas ditulis dengan tinta emas:

“Lupakan perbedaan non-prinsip dan mari kita bersinergi untuk memperjuangkan yang prinsip”

Bahkan dari pengalamannya yang panjang dan keluasan ilmu para tokohnya, para tokoh jamaah ini banyak yang melahirkan karya-karya besar di bidang fiqih sesuai dengan permasalahan yang berkembang, seperti fiqih, zakat, fiqih dakwah, fiqih awliyah (prioritas), fiqih sirah (sejarah Nabi Muhammad saw), dan lainnya. Kelebihan ini –setahu saya- tidak dimiliki oleh jamaah lain.

Menariknya lagi, jamaah ini sangat terbuka terhadap kritik dan saran. Apa pun itu, selama benar-benar mengajak kembali kepada ajaran Islam yang benar. Belum pernah jamaah ini mengaku sebagai “jamaah umat islam”. Pada tokohnya selalu mengatakan, “Kami hanyalah jamaah dari umat Islam”.

Penyataan ini sangat penting untuk digarisbawahi karena persoalan mendasar yang menyebabkan umat Islam selalu centang-perenang dalam pergumulannya antara jamaah yang ada di dalamnya adalah aktivisnya merasa bahwa jamaahnya adalah “jamaah umat islam”.

Artinya, ia harus diikuti oleh seluruh umat Islam. Yang tidak ikut dianggap sesat. Dan semua jamaah selainnya adalah ahlul bid'ah. Cara pandang seperti ini justru bid'ah. Sebab, dengan mengklaim bahwa dirinya sebagai jamaah yang harus diikuti semua umat Islam, berarti ia telah meletakkan golongannnya sebagai satu-satunya golongan yang disetujui oleh wahyu. Jika demikian, dasar wahyunya mana?

Karena itu, yang paling penting adalah bagaimana agar jamaah-jamaah umat Islam bersinergi dan saling melengkapi, bukan menganggap dirinya sebagai satu-satunya jamaah umat Islam, dan yang lain sesat. Dari bersinergi secara harmonis kelak akan lahir kekuatan baru Islam yang mampu menghadapi perkembangan zaman dengan segala tantangannya. Jika tidak, umat ini akan terus terbelenggu dalam kegelisahan yang membingungkan. Tidak tahu ke mana harus melangkah.

Jamaah yang satu ini, tampaknya benar-benar serius melangkah ke arah sinergi antara jamaah umat Islam “tajmiul umman”. Untuk ini, mereka telah bergitu jauh melangkah, melakukan pembinaan (tarbiyah) secara intensif dan bertahap dengan segala sasarannya yang multidimensional, sehingga lahirlah pribadi-pribadi muslim yang mempunyai muwasshafat (karakteristik): salimul aqidah (aqidahnya benar), shahihul ibadah (ibadahnya benar), matinul khuluq (akhlaqnya kokoh), mutsaqqaful fikr (pengetahuannya luas), qawiyyul jism (tubuhnya kuat dan sehat), qaadirul alal kasbi (mampu mencari penghasilan sendiri), mujahidun linafsihi (mampu mengendalikan hawa nafsunya), munadhaman fissyu’unihi (menjadi pribadi efektif), harisan ala waqtihi (mengisi waktu secara efisien), nafiun lighairihi (memberikan manfaat kepada orang lain).

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

+++


"Wahai kaum Muslimin dan Muslimat di seluruh dunia, memboikot produk-produk buatan Israel dan Amerika adalah kewajipan bagi seluruh umat Islam di seluruh dunia. Setiap dolar yang kita bayarkan untuk sebotol Coca-Cola misalnya, akan menjadi sebutir peluru di dalam senjata orang-orang Amerika atau Israel yang akan diacu ke arah kita. Kita telah menyumbangkan wang kita setiap hari kepada McDonalds, KFC, Burger King dsb, tanpa memikirkan ke mana wang itu akan dibelanjakan.

Menurut pendapat saya, setiap Muslim harus bertanggungjawab dalam hal yang mempengaruhi keluarga dan gaya hidup mereka. Lihatlah kepada orang-orang Amerika yang telah membatalkan (veto) resolusi PBB untuk mengutuk aksi tentera Israel di Palestin. Jika mereka itu adalah pemelihara perdamaian seperti yang mereka dakwa, apakah mungkin mereka melakukannya (membatalkan resolusi PBB)?

Wahai manusia, tidakkah anda berfikir? Tidakkah anda memiliki perasaan lagi? Tidakkah anda merasakan kepahitan negara-negara Arab dan Islam dalam hal ini? Darah yang paling murah adalah darah kita! Kita telah menjadi bahan percubaan bagi senjata-senjata dan peluru-peluru serta teknologi mereka. Persenjataan perang ini dibiayai oleh kita, dalam gaya hidup konsumerisme yang mereka paksakan ke atas kita.

Saya bertanya kepada anda semua, dengan nama Allah. Saya bertanya pada anda semua, atas nama ribuan orang yang mati di tangan pengganas-pengganas itu pada tahun 1948, 1967, 1973 di Qana, di Dir Yassin, di Bahr al-Bakar semenanjung Gaza dan di al-Quds. Saya bertanya kepada anda semua, atas nama orang yang mati syahid untuk kehormatan kita. Saya bertanya ke atas anda, atas nama seorang anak kecil bernama Muhammad al-Durrah, yang syahid dalam pelukan ayahnya ditembusi peluru-peluru, dari wang yang telah kita sumbangkan kepada mereka.

Apakah akan jadi kepada kita? Kita memiliki mata yang tidak dapat kita gunakan untuk melihat. Kita memiliki telinga, tetapi kita tidak gunakan untuk mendengar. Kita memiliki hati, tetapi tidak lagi dapat merasai. Mereka telah menjadikan kita sebagai pengguna-pengguna yang buta, yang rela membayar wang untuk membiayai senjata mereka, untuk mendukung aksi keganasan mereka di dunia Arab dan Islam.

Boikot mereka sekarang! Sekarang atau peluang ini tidak muncul lagi selamanya!

Dunia Arab dan Islam harus bersatu agar menjadi kuat. Kembali dan siapkan persenjataan kita. Kembalikanlah dan bangunkanlah ekonomi kita agar kita dapat menghancurkan mereka. Allahu Akbar!!"

[Dr. Yusuf al-Qaradhawi, 8 Oktober 2001 (Qatar)]


+++