بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ
"Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras, sehingga (hatimu) seperti batu, bahkan lebih keras. Padahal dari batu-batu itu pasti ada sungai-sungai yang (airnya) memancar daripadanya. Dan ada pula yang terbelah lalu keluarlah mata air daripadanya. Dan ada pula yang meluncur jatuh kerana takut kepada Allah. Dan Allah tidaklah lengah terhadap apa yang kamu kerjakan."
[QS Al-Baqarah, 2:74]

Monday, 2 May 2011

Sirah: Abu Dzar Al-Ghifari

Assalamualaikum.

Peribadi hebat. Yang sepatutnya kita menjadikan dia sebagai contoh untuk menjalani kehidupan selepas Rasulullah dan rasul-rasul dan para nabi yang lain. Adalah para sahabat Rasulullah SAW. Bukannya para menteri, raja-raja, artis-artis yang mengarut je kerja dia dan lain-lain. Kerana Rasulullah SAW telah bersabda,
“Sebaik-baik generasi ialah generasiku, kemudian orang-orang sesudahnya, dan orang-orang sesudahnya lagi. Lalu akan datang orang-orang yang kesaksiannya mendahului sumpahnya dan sumpahnya mendahului kesaksiannya.” 
[HR Al-Bukhari]  
Dan, tidak pernah pula kita terlupakan firman Allah dalam surah al-Qalam, ayat ke-4

وَإنَّكَ لَعَلى خُلُقٍ عَظِيمٍ

"Dan bahawa sesungguhnya engkau (Muhammad) mempunyai akhlak yang agung. "
[Surah Al-Qalam, 68: 4]

Jika seorang budak kecil yang tidak tahu apa-apa, menyatakan tentang kehebatan sesuatu perkara, mungkin sahaja kehebatan dari matanya itu bukanlah satu kehebatan pada kita. tetapi, Namun, jika Allah yang Maha Agung telah menyatakan tentang kehebatan sesuatu perkara, tentunya perkara itu memang sangat-sangat hebat.


+++

Lembah Waddan yang menghubungkan kota Makkah dengan dunia luar dihuni oleh kabilah Ghifar. Kehidupan kabilah ini bergantung pada semacam pungutan yang dikenakan terhadap kafilah-kafilah dagang Quraisy yang hilir mudik dari dan ke Syam. Kadangkala, bila kafilah dagang yang lewat itu tak mahu memberi, kabilah Ghifar merompak mereka.

Tersebutlah Jundub bin Jundah yang lebih terkenal dengan sebutan Abu Dzar. Dia adalah seorang putra Ghifar yang terkemuka karena keberanian, kecerdasan, dan wawasan berfikirnya yang luas.

Dada Abu Dzar terasa sesak menyaksikan kaumnya menyembah patung-patung mati. Dia mengecam akidah bangsa Arab yang rusak ini dan selalu berharap-harap akan datangnya seorang nabi baru mampu mengisi akal dan hati mereka dengan cahaya kebenaran dan mengeluarkan mereka dari kegelapan.

Akhirnya sampai juga ke telinga Abu Dzar berita bahwa seorang nabi baru telah muncul di kota Makkah. Dia segera berkata kepada saudaranya, Anis,
“Saudaraku, pergilah ke kota Makkah untuk mencari berita tentang orang yang mengaku sebagai nabi yang menerima wahyu dari langit itu. Dengarlah apa yang diserukannya lalu ceritakan padaku.”
Anis segera berangkat ke Makkah. Di sana dia berpeluang bertemu dengan Rasulullah dan mendengar seruannya. Setelah itu dia segera pulang, dan disongsong oleh Abu Dzar dengan berdebar-debar.

Kata Anis, 
“Demi Allah, aku melihat seseorang mengajak pada keluhuran budi dan akhlak. Kata-kata yang diucapkannya bukanlah syair.”
Kata Abu Dzar,
“Demi Allah, engkau tidak memuaskan aku dan tidak menyampaikan apa yang kuperlukan. Begini saja, maHukah engkau menanggung keluargaku untuk sementara waktu? Aku ingin menjumpai dan bercakap-cakap dengan nabi itu.
Pesan Anis,
“Baik. Tapi berhati-hatilah, jaga dirimu dari penduduk kota Makkah,”
Abu Dzar segera menyiapkan perbekalan. Dengan membawa qirbah (tempat air terbuat dari kulit binatang) kecil dia berangkat ke Makkah keesokan harinya. Hatinya sudah bulat. Dia harus bertemu dengan nabi dan menanyakan tentang apa yang diserukannya.

Singkat cerita, Abu Dzar sampai di kota Makkah. Dia telah banyak mendengar berita tentang keganasan Quraisy terhadap orang-orang yang ingin menjadi pengikut Muhammad. Oleh karena itu dia takut dan tak maHu bertanya kepada siapapun tentang Muhammad, sebab dia tak tahu apakah yang ditanya itu sahabat Muhammad atau justeru musuhnya.

Ketika malam tiba Abu Dzar tidur di masjid. Kebetulan tak lama berselang Ali bin Abi Thalib berlalu di depan masjid. Dalam sekejap Ali tahu bahwa Abu Dzar adalah pendatang dari luar kota sehingga dia berkata,
“Saudara, mari menginap saja di rumahku.”
Jadilah Abu Dzar menginap di rumah Ali malam itu. Pagi harinya dia membawa qirbah dan kantung makanannya untuk kembali ke masjid bersama si tuan rumah. Namun kedua orang itu tidak saling menanyakan urusannya.

Sampai hari kedua Abu Dzar belum juga mendapatkan keterangan tentang Nabi Muhammad. Maka ketika senja turun dia pergi ke masjid untuk tidur. Seperti kemarin, Ali bin Abi Thalib melewati masjid, lalu bertanya, 
“Anda belum pulang?”
Seperti kelmarin pula, malam itu Abu Dzar kembali menginap di rumah Ali. Begitu pun keduanya tetap tidak saling bertanya atau memperkenalkan diri.

Pada malam yang ketiga, akhirnya Ali bertanya kepada tamunya,
“Apa sebenarnya keperluan Anda di Makkah ini?”
Abu Dzar menjawab dengan hati-hati,
“Pertama-tama, berjanjilah dulu bahwa Anda mahu memberikan keterangan yang ku perlukan.”
Setelah Ali memberikan janjinya, baru Abu Dzar berterus terang,
“Sebenarnya kedatanganku ke mari ini dari suatu tempat yang jauh adalah untuk menjumpai nabi baru itu. Aku ingin mendengar tentang sesuatu yang dia bawa.”
Mendengar itu wajah Ali membiaskan kegembiraan. Ia menuturkan dengan berghairah, 
“Demi Allah, beliau benar-benar Rasul Allah. Biasanya beliau begini dan begitu … Besok pagi Anda bisa ikut aku. Nanti bila ada hal-hal yang terlihat mencurigakan, aku akan berhenti dan pura-pura buang air. Bila aku berjalan lagi, teruslah mengikuti. Dan bila aku memasuki sebuah rumah, masuklah juga.”
Malam itu Abu Dzar tidak mampu memicingkan mata sedikitpun karena rasa rindu yang meluap-luap untuk berjumpa dengan nabi dan mendengarkan wahyu Allah.

Pagi harinya mereka berdua berangkat ke rumah Rasulullah. Abu Dzar berjalan agak jauh di belakang Ali. Jalan yang mereka tempuh lurus saja, tidak berbelok ke kanan ataupun ke kiri, sampai akhirnya memasuki sebuah rumah.

Begitu melihat Nabi Sholallohu 'alaihi wassalam, Abu Dzar memberi salam, 
“Assalamu 'alaika, ya Rasulullah.”
Rasulullah menjawab,
“Wa 'alaikassalamullahi wa rahmatuhu wa barakatuh.”
Abu Dzar-lah orang pertama yang memberi salam kepada Rasulullah dengan cara demikian. Ucapannya itu kemudian menjadi salam Islam dan ditiru oleh semua muslimin.

Rasulullah kemudian menyeru Abu Dzar ke dalam Islam. Beliau membacakan dan mengajarinya Al-Qur'an. Sebelum meninggalkan tempat itu, Abu Dzar telah mengucapkan syahadat dan resmi memeluk Islam. Dia menjadi orang keempat atau kelima yang melakukannya.

Berikut penuturan Abu Dzar,
”…Setelah itu aku tinggal bersama Rasulullah di Makkah. Beliau mengajariku dinul (agama) Islam dan membacakan Al-Qur'an. Beliau juga berpesan, “Jangan sekali-kali engkau berterang-terangan tentang Islam di kota Mekkah ini. Aku khuwatir orang-orang akan membunuhmu.”
Kataku, 
“Demi jiwaku yang ada di tangan-Nya, saya tidak akan meninggalkan Mekkah sebelum pergi ke masjid dan mengumandangkan kebenaran Islam di tengah-tengah masyarakat Quraisy.”
Rasulullah berdiam diri mendengar kekerasanku.

Lalu aku pergi ke masjid. Orang-orang Qurasy sedang duduk-duduk sambil mengobrol. Di tengah-tengah mereka aku berdiri dan berteriak sekeras-kerasnya, 
“Hai orang-orang Quraisy, aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Rasulullah!”
Mereka terperanjat, dan sedetik kemudian semua bangkit dari duduknya dan menyerbu ke arahku.
“Ajar saja orang ini! Dia telah keluar dari agamanya!” 
Di sana-sini terdengar teriakan.

Orang-orang segera menghujaniku dengan pukulan-pukulan keras tanpa ampun. Mungkin aku akan tewas kalau saja Abbas bin Abdul Muthalib tidak segera datang. Dia berusaha melindungiku dan mengherdik para pengeroyokku,
“Celakalah kalian! Kalian hendak membunuh seorang Ghifar, padahal kafilah kalian harus melewati perkampungan Ghifar?!”
Mendengar itu, baru mereka berhenti.

Setelah siuman, aku pergi menjumpai Rasulullah. Melihat keaadanku, beliau berkata,
“Bukanlah aku telah melarangmu mengumumkan Islam?”
Kataku,
“Ya Rasulullah, niat dalam hati saya telah terpenuhi.” Beliau berkata lagi, “Pulanglah ke tempat kaummu dan beritakan apa yang kau lihat dan kau dengar di sini. Serulah mereka ke dalam agama Allah. Semoga dia memberi petunjuk kepada mereka melalui engkau dan memberikan pahala kepadamu. Bila kau dengar posisi Islam dalam masyarakat sudah kokoh, datanglah kembali kepadaku.”
Aku pun pulang sesuai dengan perintah Rasulullah. Saudaraku Anis menyongsong seraya bertanya, 
“Apa saja yang telah kau lakukan?”
Jawabku, 
“Aku memeluk Islam dan aku mempercayai Rasulullah,”
Allah membukakan hati Anis sehingga dia berkata,
“Aku tidak suka kepada agamaku. Aku menyatakan Islam dan membenarkan dakwah Rasulullah.”
Kemudian kami berdua menjumpai Ibu dan mengajaknya masuk Islam. Dia berkata, 
“Aku tidak suka kepada agamaku. Aku juga menyatakan Islam.”
Sejak hari itu, keluarga yang beriman ini bergerak memperkenalkan Islam di daerah Ghifar tanpa jemu-jemu sehingga banyak penduduk Ghifar yang masuk Islam. Shalat lima waktu pun aktif dilakukan di masjid-masjid.

Segolongan orang berkata,
“Sementara ini kita bertahan dalam agama kita. Nanti bila Rasulullah ke kota Madinah baru kita nyatakan keislaman kita di depan beliau.”
Begitulah. Setelah Rasulullah hijrah ke Madinah, mereka semua menyatakan keislamannya. Beliau berkata, 
"Ghifar, semoga Allah mengampuni mereka. Aslam, semoga Allah memberi mereka keselamatan..”
Abu Dzar tetap tinggal didusunnya sampai tercetusnya perang Badar, Uhud dan Khandaq. Sesudah itu dia pergi ke Madinah dan minta izin untuk menyertai Rasulullah dan melayani semua kebutuhan beliau. Sebaliknya, Rasulullah juga mengutamakan dan menghormati Abu Dzar. Setiap kali berjumpa, beliau pasti menjabat tangan Abu Dzar erat-erat sambil tersenyum menunjukkan kegembiraan.

+++

Diceritakan dalam riwayat yang berbeda oleh Ibn Al-Mubarok dalam dua kitabnya Al-Birr dan As-Shalah bahwa terjadi ketidaksepakatan antara Abu Dzar dan Bilal. Abu Dzar kemudian berkata kepada Bilal,
“Hei anak budak hitam”.
Rasulullah yang mendegar ini sangat marah, lalu beliau mengingatkan Abu Dzar dengan sabdanya dengan telunjuk mengarah ke wajah Abu Dzar,
"Engkau! Sungguh dalam dirimu masih terdapat jahiliah!"
Peringatan Rasulullah ini meninggalkan pengaruh yang teramat dalam pada diri Abu Dzar. Beliau kemudian meletakkan kepalanya di tanah dan bersumpah bahwa beliau tidak akan mengangkatnya sebelum Bilal menginjakkan kakinya di atas kepalanya.

Tentunya Bilal tidak melakukan apa yang dimahukan oleh Abu Dzar, sebaliknya dia berkata kepada Abu Dzar,
"Aku memaafkan Abu Dzar, Ya Rasulullah. Dan Biarlah urusan ini tersimpan di sisi Allah, menjadi kebaikan bagiku kelak."
+++

Setelah Rasulullah pulang ke rahmatullah, Abu Dzar tidak lagi merasa betah tinggal di Madinah. Dia pindah ke Syam, dan tinggal di sana selama masa khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq, dan Al-Faruq, Umar bin Khathab.

Pada masa khalifah Utsman bin Affan, Abu Dzar pindah ke Damsyik. Di kota ini dilihatnya betapa kaum muslimin tenggelam dalam kemewahan dan sangat condong pada dunia. Kondisi ini sangat mengejutkan Abu Dzar.

Suatu kali Khalifah Utsman memanggilnya agar kembali ke Madinah. Abu Dzar segera memenuhi panggilan itu. Tapi lagi-lagi disini dia menjumpai kondisi yang sama. Kini hatinya cemas melihat manusia begitu cenderung kepada dunia. Sebaliknya, orang-orang merasa sesak menghadapi kekerasan hati Abu Dzar yang tak bosan-bosannya memperingatkan mereka dengan kata-kata pedas.

Khalifah kemudian menyarankan agar Abu Dzar bermukim di Arrabdzah, sebuah desa kecil yang masih wilayah Madinah. Abu Dzar menyetujui dan berangkat dengan segera. Dia hidup jauh dari manusia, zuhud terhadap kekayaan, tak mengirikan harta benda yang berada di tangan orang lain, berpegang pada cara hidup Rasulullah dan kedua sahabatnya yang mulia. Dia mengutamakan kehidupan akhirat yang kekal daripada kehidupan dunia yang fana.

Suatu hari seorang lelaki berkunjung ke rumah Abu Dzar. Melihat rumahnya kosong melompong, tamu itu bertanya, 
“Wahai Abu Dzar, dimana gerangan perabot-perabot rumah anda?”
Jawab Abu Dzar, 
“Kita punya rumah di kampung sana (maksudnya kanpung akhirat) sehingga perabot-perabot yang terbaik kukirimkan ke sana.”
Tamu itu mengerti maksudnya. Katanya lagi, 
“Tapi Anda juga mesti memiliki perabot selama berada di kampung yang sekarang.”
Jawab Abu Dzar, 
“Tapi si empunya rumah tidak mengizinkan kita menetap di rumah yang ini (si dunia),”
Pernah gubernur Syam mengirimkan uang tiga ratus dinar kepada Abu Dzar disertai ucapan,
“Pergunakanlah uang ini untuk kebutuhan Anda.”
Abu Dzar mengembalikan seluruhnya seraya berkata
“Apakah Tuan Gubernur tidak menemukan seorang hamba yang lebih miskin dari saya?”
+++

Pada tahun 32 H, malaikat maut telah menjemput seorang zuhud yang tekun beribadah yang dikatakan oleh Rasulullah,
“Tidak ada di atas bumi dan di bawah langit orang yang lebih jujur daripada Abu Dzar.”
Dan,
"Semoga Allah menyayangi Abu Dzar. Dia berangkat sendirian. Dia mati sendirian. Dia dibangkitkan sendirian."

1) Sosok Para Sahabat Nabi, DR. Abdurrahman Ra'fat Al-Basya, Cetakan I, Oktober 1996, CV.Pustaka Matiq 


"Study week!!"
khir al-imtiaz
2 Mei 2011
1041am

1 comment:

  1. "Aku memaafkan Abu Dzar, Ya Rasulullah. Dan Biarlah urusan ini tersimpan di sisi Allah, menjadi kebaikan bagiku kelak."

    alhamdulillah,post ini telah menegur saya indirectly.
    bila kita memaafkan seseorang, insyaallah ada unsur positif yang akan masuk dalam diri kita
    begitu juga di lapangan dakwah...
    jatuh bangunnya sesuatu management bukan disebabkan oleh gerak kerja .. tetapi bermula dari kader2 nya

    lillahi Taala..

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

+++


"Wahai kaum Muslimin dan Muslimat di seluruh dunia, memboikot produk-produk buatan Israel dan Amerika adalah kewajipan bagi seluruh umat Islam di seluruh dunia. Setiap dolar yang kita bayarkan untuk sebotol Coca-Cola misalnya, akan menjadi sebutir peluru di dalam senjata orang-orang Amerika atau Israel yang akan diacu ke arah kita. Kita telah menyumbangkan wang kita setiap hari kepada McDonalds, KFC, Burger King dsb, tanpa memikirkan ke mana wang itu akan dibelanjakan.

Menurut pendapat saya, setiap Muslim harus bertanggungjawab dalam hal yang mempengaruhi keluarga dan gaya hidup mereka. Lihatlah kepada orang-orang Amerika yang telah membatalkan (veto) resolusi PBB untuk mengutuk aksi tentera Israel di Palestin. Jika mereka itu adalah pemelihara perdamaian seperti yang mereka dakwa, apakah mungkin mereka melakukannya (membatalkan resolusi PBB)?

Wahai manusia, tidakkah anda berfikir? Tidakkah anda memiliki perasaan lagi? Tidakkah anda merasakan kepahitan negara-negara Arab dan Islam dalam hal ini? Darah yang paling murah adalah darah kita! Kita telah menjadi bahan percubaan bagi senjata-senjata dan peluru-peluru serta teknologi mereka. Persenjataan perang ini dibiayai oleh kita, dalam gaya hidup konsumerisme yang mereka paksakan ke atas kita.

Saya bertanya kepada anda semua, dengan nama Allah. Saya bertanya pada anda semua, atas nama ribuan orang yang mati di tangan pengganas-pengganas itu pada tahun 1948, 1967, 1973 di Qana, di Dir Yassin, di Bahr al-Bakar semenanjung Gaza dan di al-Quds. Saya bertanya kepada anda semua, atas nama orang yang mati syahid untuk kehormatan kita. Saya bertanya ke atas anda, atas nama seorang anak kecil bernama Muhammad al-Durrah, yang syahid dalam pelukan ayahnya ditembusi peluru-peluru, dari wang yang telah kita sumbangkan kepada mereka.

Apakah akan jadi kepada kita? Kita memiliki mata yang tidak dapat kita gunakan untuk melihat. Kita memiliki telinga, tetapi kita tidak gunakan untuk mendengar. Kita memiliki hati, tetapi tidak lagi dapat merasai. Mereka telah menjadikan kita sebagai pengguna-pengguna yang buta, yang rela membayar wang untuk membiayai senjata mereka, untuk mendukung aksi keganasan mereka di dunia Arab dan Islam.

Boikot mereka sekarang! Sekarang atau peluang ini tidak muncul lagi selamanya!

Dunia Arab dan Islam harus bersatu agar menjadi kuat. Kembali dan siapkan persenjataan kita. Kembalikanlah dan bangunkanlah ekonomi kita agar kita dapat menghancurkan mereka. Allahu Akbar!!"

[Dr. Yusuf al-Qaradhawi, 8 Oktober 2001 (Qatar)]


+++